The Falcon Saga

Waktu Bersama Papa

Papa & Mama Bermain Piano

Dua puluh enam tahun bersama Papa terasa kurang. Banyak sekali kenangan yang ingin diulang kembali. Papa pergi meninggalkan sebuah janji. Janji yang jika digantikan orang lain, pasti kesannya akan berbeda. Papa berjanji akan menikahkan sendiri putri semata wayangnya ini dengan menggunakan bahasa Arab. Jika mengingat percakapan saat beliau mengucapkan janji tersebut, membuatku terseyum mengenang semuanya. Itu terjadi tepat dua tahun yang lalu, lima belas hari sebelum Papa pergi menghadap Allah SWT.

Melewati bulan ini sendirian di rumah yang saya tempati saat ini, mungkin akan terasa melow buat saya pribadi. Karena kehilangan terbesar terjadi dibulan ini dan di rumah ini. Tapi itu akan saya ubah menjadi sebuah hal yang “tidak terlalu melow“. Karena saya hanya ingin mengenang hal bahagianya saja.

Papa memang jarang di rumah karena jadwal kerja Papa yang mengharuskan berkerja 3 minggu, dan istirahat selama 1 minggu. 1 minggu itu kadang hanya 5 hari yang dihabiskan di rumah. 2 hari lainnya dipakai untuk menempuh jarak pulang dan pergi ke lokasi Papa berkerja.

Banyak sekali hal-hal lucu, bahagia, dan sedih yang saya rasakan bersama Papa. Masih ingat diingatan saya, saat pertama kali pindah ke rumah ini. Di sore hari, Papa mengajak saya “his little princess” untuk berjalan-jalan keliling komplek. Papa mengajak saya mendekati pohon dengan buah merah kecil-kecil. Disitu Papa mengambil buahnya yang merah-merah dan memberikannya kepada saya. Itu pertama kalinya saya mencicipi buah kersem. Rasanya manis. Sangat manis.

Photographer: Papa

Saat saya mulai memasuki TK B, ada hal yang tidak dapat saya lupakan sekaligus pembelajaran berharga. Waktu itu Papa sedang libur. Seperti biasa setelah makan siang, saya dijadwalkan untuk tidur siang. Papa mengantar saya sambil membawa 1 boneka saya ke kamar depan untuk tidur siang. Kali ini Papa tidak ikut tidur siang karena beliau belum sholat dzuhur. Waktu itu saya tidak bisa tidur siang, hanya bermain-main dengan boneka saya. Tiba-tiba teman saya memanggil mengajak bermain, tapi dijawab Papa kalau saya sedang tidur. Mendengar teman-teman memanggil, saya melihat dari jendela kamar. Saya memutuskan untuk keluar sebentar. Melihat pintu kamar yang tertutup, saya mencoba keluar lewat jendela kamar. Awalnya, saya rasa hanya iseng. Bisa tidak ya saya keluar lewat dari jendela. Ternyata bisa. Hahaha. Setelah itu saya menghampiri teman-teman saya yang bermain dilapangan belakang dekat rumah. Merasa mengantuk, akhirnya saya pulang kerumah. Karena tidak bisa menggapai kembali jendela kamar, saya memutuskan untuk masuk dari pintu. Karena pintu terkunci, saya teriak, “Papa, Mbak, bukain pintunya aku ngantuk! Papaaaa, Mbaaakkk.”

Papa yang masih mengenakan sarung dan mencoba menelan sisa makanan di mulutnya, membukakan pintu sambil melotot. “Alamak, kau diluar?” dengam polos saya menjawab “Iyah, tadi lewat jendela.” Penjelasan saya membuat Papa geram. Papa menarik masuk dan memarahi saya. Sambil menangis, saya mengikuti tarikan Papa yang mengantarkan saya ke kamar saya. Cara Papa membuka pintu kamar membuat saya semakin ketakutan. “Naik kau atas kasur?”. Saya pun menaiki kasur sambil menangis kencang. Memeluk bantal dan membenamkan wajah di bantal dalam posisi tengkurap. Papa keluar kamar dan kembali lagi DENGAN MEMBAWA SELANG! Hal itu membuat saya semakin ketakutan. Papa memukul betis saya dengan selang. Sumpah, saya inget banget. Sebenernya itu nggak sakit sama sekali. Tapi melihat Papa pertama kali marah seperti itulah yang membuat saya menangis histeris. Sebelumnya Papa tidak pernah marah sama sekali. Beberapa kali selang itu mengenai betis, kemudian Papa keluar kamar dan mengunci kamar tidur saya sambil teriak. “Jangan dibuka ya Mbak!!” Saya yang menangis dan merasa mengantukpun akhirnya tertidur.

Main Bersama Papa Di Rumah

Saat saya bangun, saya melihat pintu sudah terbuka. Saya duduk dan mengambil boneka yang terpajang diatas kepala kasur. Masih merasa sedih, tiba-tiba Papa masuk ke kamar. “Sudah bangun anakku?” tanyanya dengan suara lembut. Saya membalas dengan anggukan. Sumpah saya masih takut banget waktu itu. Tapi papa mendekat ke kasur kemudian berlutut menyamakan tinggi wajahnya dengan saya. Papa meminta saya untuk tidak melakukan hal itu lagi. Jika saya ingin keluar rumah, harus sepengetahuan orang rumah. Papa menjelaskan kenapa Papa marah banget. Kejadian dulu saat kami baru pindah ke rumah ini. Saya menghilang dan ditemukan dilapangan depan, sedang digendong oleh orang gila. Waktu itu Papa sedang kerja. Cuma Mama dan Mbak yang ada di rumah. Tapi karena mereka berdua sedang sibuk menata perabotan rumah, jadi tidak ada yang mengawasi saya. Kejadian itu menjadi trauma untuk Mama dan Papa. Saya masih memiliki memori kejadian tersebut. Mama berteriak-teriak meminta tolong kepada orang-orang yang lewat. Mama khawatir kalau orang gila tersebut akan membanting saya yang berusia 3 tahun saat itu. Alhamdulillahnya saya tidak apa-apa.

Selesai menjelaskan alasan Papa marah, Papa mengucapkan maaf dan meninta saya untuk mengatakan maaf juga. Dan sayapun diminta berjanji untuk tidak melakukan hal itu lagi. Setelah itu Papa mengajak keluar kamar dan duduk di meja makan untuk menikmati snack sore. Saya masih ingat betul snack sore saat itu adalah unti kelapa dan juga kue tok. Dua jenis jajanan pasar favorite saya. Hal ini sudah menjadi kebiasaan Papa. Untuk mencairkan suasana yang tegang, Papa akan memberikan sesuatu yang saya suka. Entah itu makanan, mimuman, ataupun barang.

Nah itu salah satu cerita kenangan saya dengan Papa. Masih banyak lagi cerita lainnya bersama Papa yang ingin saya tulis. Baik cerita mengesalkan, lucu, dan senang bersama Papa. Diantaranya, kenangan bagaimana Papa menyelesaikan masalah anak laki-laki yang menyukai saya saat di bangku SMP, mengacaukan sweet moment saya saat di antar kakak kelas pulang kerumah di waktu huja, sikap Papa saat anak gadisnya stress minta izin potong rambut setengah botak, menghisap rokok pertama dan terakhir bareng Papa, marah besarnya Papa saat tau anak gadisnya mencoba vodca, membuat temporary tattoo pertama kali bersama Papa, dan masih banyak lagi.

6 thoughts on “Waktu Bersama Papa”

    1. Bener banget..
      Kadang suka berharap "Coba saat masih ada beliau, kenapa kita ga coba melakukan ini atau itu yah?"
      Jadi suka kasih masukan ke temen-temen yang masih punya ortu lengkap, untuk menghabiskan lebih banyak waktu sama mereka.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *