The Falcon Saga

Tetangga

 

 

Masih bersyukur di saat pandemi seperti ini masih memiliki penghasilan dari bisnis yang saya sudah jalankan selama hampir 2 tahun belakangan ini. Walau tidak sebanyak seperti biasanya. Jika direnungkan rezeki yang Alloh berikan kali ini lebih banyak bukan ke materi, melainkan waktu luang yang dapat digunakan untuk mempelajari hal baru, memperdalam skill yang sebelumnya belum terlalu mahir, memperbanyak silaturahmi, mengunjungi rumah yang lama kosong, dapat melihat peluang yang bisa saya jadikan ladang materi, dan bahkan saya mendapatkan tawaran belajar mengelola bisnis Om saya. Benar-benar luar biasa sekali bukan nikmat yang saya dapatkan.

Tapi terkadang nikmat syukur yang kita rasakan di ganggu oleh pandangan tetangga sekitar. Yup, “para juliters”. Rasanya kadang mau ngebantai mereka gitu. Tapi kasihan. Karena sebenarnya mereka berbuat demikian karena ada rasa kurang di dalam hati mereka. (Sebenarnya sih mau bilang yang kasar, tapi nggak jadi. InsyaAlloh saya masih lebih waras.) Hahaha (memuji diri sendiri)

Saat itu saya baru sampai di rumah malam hari kebetulan saya membawa koper kecil dan 1 tas laundry yang berisikan oleh-oleh pakaian dan mainan untuk beberapa kawan dekat dan  keponakan. Saat ingin membuka pintu, tiba-tiba saya diberondong pertanyaan oleh tetangga depan rumah. “Pulang mba? Kok bawa banyak barang?”

“Iyah, Te. Mau kondangan soalnya. Ini bawa kado sama mainan.”

“Bakalan lama tah disini?” Tanyanya lagi

“Sepertinya Te. Soalnya akhir bulan juga ada yang nikahan lagi.”

“Siapa Mba yang nikah? Temen tah?” Tanyanya lagi.

“Iyah Te.”

“Temen yang mana?” Tanyanya lagi dan lagi.

AllohhuAkbar, rasanya mau saya apakan waktu itu.

“Teman main Te.”

“Yang mana orangnya, pernah main kesini nggak?”

“Pernah Te. Te maaf aku masuk dulu yah. Capek soalnya.” Putusku untuk mengakhiri obrolan tsb.

Kalau saya ceritakan dari hari pertama saya pulang hingga hari ini, mungkin sudah jadi 1 buku novel dengan 233 halaman. Singkat cerita setelah ke 2 teman saya menikah. Beliau menanyakan beberapa hal lagi kepada saya. Oh iyah, yang lebih hebatnya lagi beliau mengingat tanggal-tanggal teman saya menikah. Karena di hari ke dua saya di rumah beliau menanyakan hal itu. Setiap sepulang kondangan saya dibanjiri beberapa pertanyaan, seperti nikah sama orang mana, kerja dimana, pernikahannya bagaimana, apa souvenirnya, dan ujung-ujungnya menanyakan pertanyaan klasik. “Terus Mba kapan nikahnya? Sam yang kemarin nggak jadi tah? Kenapa?”. AllohhuAkbar. Kalian bisa banyangin khan keselnya kayak apa? Bukan kesel karena ditanya kapan nikah, tapi kesel ini orang kepo buanget.

Terus pernah suatu hari, beliau duduk di kursi depan halaman rumah. (Rumah saya sengaja tidak diberi pagar oleh Papa, katanya supaya banyak orang bisa berteduh. Jadi ya siapa saja bisa duduk di halaman depan yang sempit.) Saat itu saya sedang menerima telpon dari teman laki-laki, saya menerima telpon tersebut di ruang tamu. Jadi suara saya dan teman saya ( saya loud speaker) terdengar sampai halaman depan. Beliau pun bertanya “Mba lagi ngobrol sama siapa? Lagi ada teman yang nginap? Kok laki-laki?”

Saya pun membalas dari dalam rumah, “Bukan Te, lagi telponan sama temen. Ini aku loud speaker!”.

Karena merasa tak nyaman, saya berpindah ke dapur agar tak di dengar. Tapi lagi-lagi beliau bertanya, “Mba kok suaranya jauh? Pindah tah?” Dalam hati saya cuma bilang “Kambing, ini orang maunya apa? Kepo banget!”

Karena suara si Tante terdengar oleh teman saya, jadinya kami membahas si Tante yang kepoan. Sumpah ganggu banget.

Saya pikir cuma kepoan saja, taunya dijulidin juga. Ceritanya saya sedang belanja sayur. Si ibu sayur cerita ke saya kalau Si Tante suka cerita-cerita tentang saya. Mulai dari temen saya yang sudah menikah tapi saya belum sampai permasalahan ada laki-laki yang telponan dengan saya kemudian saya menghindar. WHAT THE F*CK banget khan! Tapi seperti pesan Mama, “sudah biarkan saja, dia itu kangen ngajak ngobrol Kakak. Makanya kakak ditanya-tanya terus. Kakak tau sendiri, si Tante nggak ada yang suka ngajak ngobrol di rumah. Ada anak 1 tapi musuhan aja. Makanya Tante lebih seneng ngajak Mba ngobrol dan tanya-tanya.”

Iyah sih, kadang suka kasian. Tapi kalau terus ditanya-tanya khan jadi kezeelll. Apalagi di julitin juga. Pernah tuh, setelah teman nikahan dia cerita mau buka usaha kue. Diq minta anter saya untuk membeli beberapa perlengkapan membuat kue. Saya bilang ke dia untuk apa beli, pakai saja dulu punya saya. Nanti kalau sudah jalan baru beli deh yang bagus. Akhirnya, saya dan teman saya tidak jadi ke toko perlengkapan kue. Kami pergi ke rumah saya. Sesampainya di rumah, saya membongkar lemari yang berisikan peralatan masak. Dia meminjam beberapa barang keperluan membuat kue. Saat ingin memasukan semua peralatan ke dalam mobilnya, si Tante keluar rumah dan bertanya “Mba itu semua dijualin? Sini dijual ke Tante ajah. Masih ada lagi nggak di dalam?”.

Entah apa yang membuatnya bertanya seperti itu, kalau dipikir-pikir seharusnya dia bertanya kenapa dibawa? Dipinjem kah? atau Mau buat apa? Tapi entah kenapa beliau bertanya seperti itu.

Dan akhirnya semua  itu terjawab. Ceritanya setiap bulan keluarga saya kalau ada di rumah selalu memanggil tukang becak langganan untuk membersihkan halaman belakang rumah yang penuh apotek hidup milik Papa. Mamangnya bertanya kepada saya, “Non, Non lagi ada masalah sama tetangga depan?”

“Nggak Mang. Kenapa?” Tanyaku balik.

“Iya, kemarin si Om bilang ke saya kalau Non lama disini karena sudah nggak kerja lagi di Jakarta. Katanya Non nganggur karena di PHK. Padahal setahu saya, Ibu dulu cerita kalau Non itu sudah nggak kerja di orang. Lagi rintis usaha kursusan bahasa.” Jelas si Mamang.

“Hah! Dia bilang gitu?” Tanya ku kaget.

“Iya Non. Si Om juga cerita kalau Non tiap hari keluyuran terus, pulangnya pasti malem-malem banget. Terus cerita juga, setiap pagi Non telponan sama orang luar laki-laki gitu non. Disangkanya Non pacaran sama bule-bule.” Cerita si Mamang.

“AllohhuAkbar. Saya pulang sampai malam soalnya saya bikinin website Mang. Klien saya orang Tegal Gubuk semua. Saya kalau selesai bikin settingan website abis isya baru pulang. Dari TG ke sini khan jauh Mang. Makanya sampe sini malem. Terus kalau tiap pagi sampe siang itu saya ngajar online Mang. Makanya saya kalau Zoom pake bahasa Inggris. Lagian khan dia tau, kalau saya ngajar anak-anak calon pilot. Jadinya laki-laki semua. Mereka bukan bule Mang.”

Dari sini saya tau, kenapa waktu itu si Tante langsung bertanya “dijual?”, saya berfikiran kalau mereka menganggap saya tidak bekerja dan tidak punya penghasilan. Sewaktu saya meminjamkan peralatan memasak kepada teman saya, mungkin si Tante berniat membantu dengan mau membeli, yang entah selanjutnya bakalan dijulitin ke orang-orang mengenai saya tentang apalagi. Bukan berfikiran buruk tentang mereka, tapi dilihat dari alur mereka bermain sudah terlihat.

Astagfirullah. Semoga persepsi mereka tentang saya yang tidak bekerja secara formal seperti sekarang ini atau “dianggap menganggur”, tidak menjadi kenyataan. Karena khan ada tuh “apa yang difikirkan, itu yang akan terjadi”. Saya nggak mau lah kalau mereka menganggap saya tidak bekerja, terus beneran saya tidak berpenghasilan. Na’udzhubillahimindzalik Ya Alloh. Paringono kulo rezeki sing ngrojok, berkah, barokah, halal dunia akhirat. Aamiin Ya Alloh.

 

 

2 thoughts on “Tetangga”

  1. Gilss beneran bisa jadi novel ini kalau dirunut ceritanya Clar....wajar sihh kesel banget punya tetangga model begini. Apa aja dimatanya salah. Ya mau gimana lagi Clar....itung2 melatih kesabaran sih...kayaknya bener si ibu kurang perhatian jadi cari perhatian.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *