The Falcon Saga

Sebuah Pelukan Hangat

 

Acara sore ini benar-benar melelahkan tapi sekaligus membahagiakan. Aku tidak pernah membanyangkan akan berada diposisi ini dalam waktu dekat. Semua terasa seperti mimpi. Ini bukan yang aku inginkan, tetapi aku mencoba menerimanya. Seperti kata Hana, “Ini tuh anugrah jie, nggak semua orang bisa ngalamin hal seperti ini!”.

Memandang foto yang baru diambil sore tadi membuatku teringat akan apa yang sudah aku lewati selama berbulan-bulan ini. Itu semua membuatku sedih, terharu, dan juga bahagia. Aku baru benar-benar mengenal kata syukur di kala aku mengalami semua ini. Aku bersyukur aku memiliki The Girls dan juga aku bersyukur mengalami ini semua.

“Awww!!” Tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa, tubuhku terasa panas dan lemas seketika. Memikirkan suatu hal yang mungkin terjadi membuatku harus menghubungi sesorang.

“Hallo, jie.”

“Han, I think it’s the Time! Meet me at the hospital!” Kataku sambil terengah-engah.

“WHAT?!! I’ll pick you up, I’ll pick you up. Where’s the key? Where’s the key?” Terdengar respon Hana yang panik.

“Hanna, listen! Meet me at the hospital.” Kataku pemperjelas. Dan langsung ku matikan panggilan tersebut.

Berfikir positif dan memikirkan hal secara rinci sangat sulit bagiku saat ini. Aku hampir tidak menemukan kunci mobil dan lupa perlengkapan yang harus kubawa. Saat memasuki mobil, rasa sakit berkurang dan hampir hilang. “Good. Please be cooperative with me.”

Rasa sakit yang tiba-tiba hilang kini datang lagi setelah melewati polisi tidur. Rasa sakit yang datang kali ini lebih sakit dari sebelumnya. Ini membuatku memutuskan berhenti dan keluar mobil menghampiri petugas satpam. Aku meminta salah satu dari mereka mengantarku ke rumah sakit.

Rasa sakit yang dirasakan bercampur dengan rasa sepi sendirian di kamar rumah sakit membuatku menangis tersedu-sedu. Saat itu aku berusaha menyebut nama-Nya sejak beberapa tahun tak pernah melakukan. Sambil menggenggam kedua tangan dan menutup mata, aku meminta agar ada seseorang yang menemaniku saat ini. Tiba-tiba pintu terbuka. Mataku yang tertutup serta bergenang air mata terbuka lebar dan melihat wanita berhijab dengan gaun malam putih. Wanita itu berteriak, “Jie Jie!”

Ia berlari ke arahku kemudian tanpa izin dariku ia langsung memelukku. Kali ini aku mengizinkannya. Karena aku membutuhkan sebuah pelukan hangat. Pelukannya mengartikan “Gua disini Jie, jangan nangis. Lo pasti bisa. Tenang saja!”

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *