The Falcon Saga

Pergi Memancing

Memancing menjadi kegiatan favorite saya bersama Papa saat beliau masih ada. Seingat saya, kami pergi memancing bersama pertama kali saat saya masih kecil, mungkin TK Nol besar atau awal SD. Kami memancing di Waduk Sermo. Waduk yang berada tidak begitu jauh di bawah rumah Simbah.

Sebelum pemancing, Papa akan mencari cacing atau bekicot disekitaran rumah. Karena saat itu saya masih menjadi anak peniru, saya pun mengikuti Papa mencari cacing. Mungkin sebagian dari kalian akan bereaksi “ihhh, cacing!”, “jorok ach.”, atau mungkin stigma negatif lainnya tentang cacing. Tapi Alhamdulillah, “The Little Clara” tidak takut ataupun merasa jijik dengan yang namanya cacing. (Membanggakan diri) Hehe

Tak hanya cacing dan bekicot yang menjadi bekal umpan untuk memancing, Papa menyiapkan “pelet” buatan sendiri juga. Tapi kali ini saya tidak tau cara membuatnya. Jika merasa bekal umpan kami sudah cukup, kami akan langsung berangkat ke waduk melewati kebun yang lebih terlihat seperti hutan.

Sesampainya di pinggir waduk, Papa selalu membuatkan tempat berteduh untuk saya yang beliau rakit sendiri menggunakan payung dan juga ranting besar sebagai penyangganya. Selesai menyiapkan tempat berteduh, Papa mulai memasang umpan pada kail pancingan yang Papa bawa. Papa selalu membawa 4 pancingan. Setiap pancingan akan dipasang umpan yang berbeda-beda; cacing, bekicot, pelet, dan juga ikan yang terbuat dari karet dengan bentuk menyerupai ikan asli.

Hal yang tidak pernah saya lupakan dan sangat saya senangi adalah, setiap memancing Papa selalu membawa bekal makan siang buatan Simbah dan Mama (saat itu Mama belum pandai memasak. Hihihi). Selesai memasang umpan, itu waktu kami menyantap bekal. Kenapa hal ini tidak bisa saya lupakan? Karena setiap menyantap bekal makan siang, saya pasti disuapi Papa dengan tangannya langsung. (Hmm, saya lupa. Waktu itu Papa cuci tangan ga yah?) Hahaha.

Dari memancing bersama Papa, saya memiliki beberapa skill. Mulai dari melatih kesabaran, kemudian memiliki pemahaman jika menginginkan sesuatu harus berusaha dan usahanya itu tidak cuma satu saja. Seperti pancingan yang Papa siapkan. Kadang pancingan dengan umpan pelet yang berhasil mendapatkan ikan, kadang pancingan yang lainnya. Kalau lagi beruntung, semuanya bisa dapat. Benar nggak? Hehe

Tak hanya itu, Papa juga mengajarkan skill lain, yaitu menangkap udang. Ini gambaran, seandainya tidak dapat ikan. Kita masih bisa mendapatkan yang lain yang bisa disyukuri. Jika tidak mendapatkan semuanya, kita masih memiliki waktu yang menyenangkan saat proses menunggu.

Nah itu dia cerita saya memancing bersama Papa. Bukan cuma waktu yang dihabiskan bersama Papa yang saya suka. Tetapi pembelajaran yang Papa sampaikan setiap melakukan suatu hal. Alhamdulillah, saya diparingi Allah waktu-waktu berharga bersama Papa.

PS: Saya masih sering makan disuapi Papa sampai saya lulus kuliah dan berkerja. MasyaAllah, kalau ingat saat masih kecil suka disuapin Papa tuh rasanya bersyukur sekali. Karena saya melihat sekeliling tempat saya tinggal, tidak ada satupun seorang ayah yang mau menyuapi anak-anaknya sambil keliling komplek.

1 thought on “Pergi Memancing”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *