The Falcon Saga

Menjadi First Love Seseorang

 

Katanya “First Love Never Dies”. Agak berat yah. Kalau kita yang merasakan pasti berbunga-bunga, ya kan? Soalnya dulu saya juga gitu. Hihihi. Tapi kali ini saya mau cerita saat saya menjadi “First Love” bagi seseorang.

Saat itu saya duduk dibangku kelas 2 SMP. Saya masuk di kelas B dan dia di kelas A. Saya dan dia memang beda kelas, tapi menjadi satu kelas saat MaPel tata boga. Iyah SMP tempat saya bersekolah, dulunya adalah sekolah kejuruan tata boga dan akutansi. Jadi untuk menghormati masa lalu sekolah itu, pihak pengelola sekolah baru tetap menghadirkan dua jurusan menjadi MaPel ekstra.

Ceritanya, si dia terkesima dengan cara saya membantu teman-teman yang membutuhkan bantuan saat kelas tataboga berlangsung dan juga saat saya menolong dia sewaktu saya bertugas menjadi petugas PMR yang berjaga di waktu upacara. Jujur kala itu saya tidak ingat, saya pernah menolong dia saat bertugas. Tapi itu pengakuan dia.

Saat kelas 2 SMP saya dibekali HP Nokia oleh Mama. Itu bertujuan untuk berjaga-jaga kalau saya sakit disekolah atau ada keperluan mendadak jadi bisa minta izin dadakan sama Mama. Ceritanya, suatu malam saya mendapat SMS dari nomor tak dikenal. Kebetulan saat SMS masuk, HP sedang dipinjam Mama untuk menelpon. Soalnya saat itu pulsa Mama sedang habis. Mama kaget dengan bunyi SMSnya.

“Halo, Clara cantik. Sdh mkn mlm blm? Jgn lp mkn y, nnti skt.”

Mama yang tadinya ada di ruang tamu, menyamper saya yang ada di ruang TV. Saat itu saya sedang menonton TV bersama Papa. Seinget saya malam itu malam Minggu, soalnya saya bisa nonton TV di Malam Minggu saja. Mama menunjukan SMS sambil bilang “Pa, anak gadis mu ini lho. Mulai ada yang dekati.”

Papa yang sedang posisi tiduran santai sambil menyanggah kepalanya, langsung menoleh kearah saya sambil bilang, “Jangan macem-macem kau nak.”

Kaget mendengar Papa bilang seperti itu, saya membalas “Dih nggak tau jeh, Pa.” Sambil memasang wajah bingung.

“Tahun depan baru boleh pacaran. Tahun ini belum boleh!” Jelas Papa.

“Enak ajah. Masih kecil. Nanti kalau sudah SMA baru boleh pacaran. Awas ya kalau Mama tau Ananda (nama panggilan) pacaran. Mama stop langganan majalahnya lho.” Ancam Mama dengan nada medok khas Jogja.

“Iya, Ma.” Jawabku.

Singkat cerita Mama yang berbalas SMS dengan Si dia. Mama berpura-pura menjadi saya. Dan disitu saya tau kalau dia suka karena hal yang saya sebutkan di atas. Dan juga suatu hal yang akhirnya membuat saya dinasehati Mama di hari Senin pagi sebelum berngkat sekolah. Mama pesan seperti ini, “Awas ya, nanti kalau ada yang sakit Ananda nggak boleh oles-oles kayu putih ke yang sakit. Minta mereka oles sendiri. Apalagi sampe ngolesin di perut. Apalagi laki-laki. Inget kata Mama lho yah. Pulang sekolah nggak ada main. Papa jemput nanti.”

“Papa nggak jadi ke Kalimantan Ma?”

“Papa bilang mau jemput Nanda dulu di sekolah, baru sore berangkat. Inget lho yah kata Mama.”

.

Saat pulang sekolah, saya melihat Papa sudah menunggu di dalam mobil di sebrang gerbang sekolah. Dengan kacamata hitamnya, Papa benar-benar terlihat keren 😍. Papa keluar dari mobil saat melihat anaknya akan keluar dari gerbang utama sekolah dan menyebrang jalan. Saat saya sampai di gerbang utama sekolah, ada anak laki-laki yang menyamperi saya. Dia memberikan coklat sambil berkata. “Ini coklat yang kamu minta.” Sumpah saat itu saya bingung. Tapi saya langsung tau, kalau dia adalah anak yang meng-SMS saya. Yang mana SMSnya di balas oleh Mama.

Melihat kejadian itu. Papa teriak dari sebrang jalan “Oiy!”. Teriakan Papa membuat saya dan anak itu menoleh ke Papa. Papa yang sampai di posisi kami, meminta saya masuk ke mobil. Papa memberhentikan semua kendaraan yang melintas agar saya bisa menuju mobil yang di parkir di sebrang jalan. Dan selanjutnya Papa ngobrol dengan anak itu.

Saya hanya melihat dari dalam mobil saat Papa bicara dengan si Dia. Papa menepuk-nepuk pundak si Dia. Dan terakhir, Papa terlihat menunjuk coklat yang Dia bawa dan Dia memberikan coklat tersebut kepada Papa. Papa menyebrang jalan dan masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Papa mengangkat alisnyanya dua kali dan tersenyum.

“Mau?” Tanya Papa menyodorkan coklat.

“Aku khan nggak suka coklat.”

“Makanya Papa yang ambil.” Papa tersenyum dan mengendarai mobil sambil makan coklat.

Keesokan harinya, teman-teman Si Dia selalu gaduh saat saya lewat. Sampai akhirnya kelas tata boga hadir lagi diminggu itu. Di kelas, teman-teman si Dia selalu menyanyikan sebait lagu yang menggambarkan latah hati. Saya lupa lagu apa itu. Saya mendekatinya, saya tanya ke Dia “Kemarin Papa bilang apa?” Dan sontak itu membuat kelas tambah ramai. Anak-anak bersorak “cie cie”. Tapi tidak saya hiraukan. Diapun terlihat malu-malu. Tapi akhirnya dia bilang, “Papa kamu bilang, katanya kamu nggak boleh pacaran. Kamu boleh pacaran kalau sudah 17 tahun.”

“Iya, sekarang khan masih kecil. Makanya temenan aja. Mama juga pesen, kalau SMS jangan rayu-rayu. Kalau masih rayu-rayu. Nanti Mama dateng ke sekolah buat marahin kamu.”

Dari obrolan itu, kami mulai berteman. Awalnya dia masih suka SMS, dia pun pernah bilang kalau saya adalah first love-nya. Singkat cerita kami bertemu kembali di tahun 2016. Saat itu kami berkumpul di acara buka puasa bersama alumni SMP kami. Si Dia datang dan saya pun datang. Saya datang dengan teman laki-laki saya. Dan saat itupun anak-anak yang tau kejadian dulu pun ribut sambil manyanyikan lagu “sakit hatiku”. Dia terlihat canggung. Saya berusaha menyapanya dan mengenalkan dengan teman laki-laki saya. Tapi dia selalu membuang wajah terlihat canggung.

FYI: teman laki-laki yang saya bawa saat bukber, adalah teman baik saya yang tidak mungkin menyukai saya. Dia menyukai tipe yang gentle dan ganteng. ✌

1 thought on “Menjadi First Love Seseorang”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *