The Falcon Saga

Mecari Kerang Tahu Di Pantai Kejawanan Cirebon

Mencari Kerang Tahu Di Pantai Kejawanan Cirebon

 

 

Lama rasanya tak pergi ke pantai di kota ini, akupun memutuskan untuk mengunjungi pantai terdekat. Mengenang seseorang yang memperkenalkan pantai ini kepadaku, aku pun memutuskan untuk mengunjungi rumahnya. Tapi saat sampai di rumah tersebut, aku mendapati jika pemiliknya sudah berganti orang. Sedih? Tidak terlalu.

“7 tahun tidak mengunjungi tempat ini, pasti sudah banyak yang berubah.” Pikirku. Karena sudah sampai di sini, sayang rasanya jika tidak pergi kepantai yang hanya berjarak 1 menit dari rumah yang aku datangi.

Sesampainya dipantai, tempat ini sepi sekali. Mungkin karena masih pagi. Tetapi beberapa warung sudah buka. Aku memutuskan untuk memesan susu vanila hangat. Aku meminta si ibu untuk membuatkannya di dalam botol stainless yang aku bawa.

“Masih pagi gini sepi yah pak?” Tanyaku kepada seorang bapak yang sedang memperbaiki jalanya.

“Sebelum corona jam segini kalau anak-anak libur sekolah mah rame neng. Biasanya banyak yang terapi juga. Semenjak corona, jam segini masih sepi.” Jawabnya.

Selesai mengobrol dengan si bapak, aku mulai jalan ke pinggiran pantai. Pantai terlihat sedang surut. Artinya, aku akan melihat banyak keong dan kepiting kecil berjalan kesana-kemari. Dan ternyata itu benar. Aku menikmati hangat matahari pagi dengan memperhatikan sekelilingku sesekali aku penyeruput susu hangat yang aku beli. Mulutku berubah terasa asam setelah meminum susu hangat. Akhirnya aku menyelipkan Velo favoritku  disela gusi kanan.

Aku melihat 2 orang sedang mencari sesuatu. Masing-masing dari mereka membawa ember hitam dan mengenakan pakaian tertutup serta kaos tambahan sebagai penutup wajah. Aku penasaran dengan apa yang mereka kerjakan. Aku menganalisa orang mana yang ingin aku sapa. Akhirnya aku memutuskan untuk menyapa seseorang yang perawakannya terlihat seperti seorang wanita. Saat ku sapa, benar, beliau adalah seorang wanita.

“Lagi cari apa?” Tanyaku canggung karena aku tidak tau apa gender dari orang tersebut.

“Cari kerang neng.” Jawab beliau. Suaranya memberi tanda kalau beliau adalah seorang wanita.

Saat melihat isi ember aku berkata dalam hati, “Anjir, kerang mahal nih. Kalau di RM Marin* yang mateng 1 kg bisa 80 ribu – 100 ribuan.” Tapi aku merespon dengan kalimat lain “Wah banyak juga ya bu. Aku boleh ikutan cari?”

“Boleh neng.”

“Caranya bagaimana bu?”

“Cari yang tanahnya jekong kedalam, kadang ada lubang seperti angka 8 tuh neng.” Jelas si ibu.

Aku masih ragu dengan cara membaca tanah yang berisikan kerang tersebut. BTW nama kerangnya adalah kerang tahu. Kalau kalian pecinta drakor pasti pernah lihat jenis kerang ini di menu makanan korea seperti, Sundubu Jjigae, Honghap Miyeokguk, dan kerkadang Jjampong.

Si ibu berkali-kali mengajariku dan menunjukan ciri tanah yang dimaksud. Setelah berkali-kali mencoba akhirnya aku mulai bisa membaca tanah yang berisikan kerang tersebut. Rasanya senang sekali saat mendapati tanah dengan ciri-ciri yang dijabarkan ibu kemudian aku benar-benar mendapatknya.

Cukup lama aku mencari kerang bersama si ibu. Kamipun saling mengobrol saat mencari kerang. Si ibu bercerita kalau beliau menikah dengan suaminya yang berbeda 5 tahun lebih muda dari beliau. Aku memuji kehebatan beliau karena hal tersebut. Jujur aku pribadi saat didekati pria yang lebih muda 4 tahun, aku selalu menganggap mereka hanya penasaran dan ingin main-main saja. Dan setelah itu aku pasti mengambil jarak. Tapi tidak dengan si ibu.

Setelah mengetahui hal tersebut, mulutku mengeluarkan kalimat menanyakan dimana anak mereka. Si ibu menjawab dengan sedih, kalau selama puluhan tahun mereka menikah. Mereka belum dikaruniai anak. Astagfirulloh Aladzim. Aku menyesal menanyakan hal tersebut. Aku meminta maaf dan beliau memaklumi. Beliau bercerita, kalau beliau diberikan anak mungkin usianya tidak jauh beda dengan diriku. Dan beliau bercerita kalau ia punya anak, mungkin anaknya akan membantunya mencari kerang atau bekerja ditempat yang lebih baik darinya.

Tak ingin terus melukai perasaan ibu, aku menyudahi mencari kerang dan meminta ibu untuk menjual semua kerangnya kepadaku. Aku membelinya dengan harga yang sangat murah Sepanjang perjalanan pulang, aku memikirkan kata-kata si ibu. Itu membuatku mengingat masa lalu.

Sesampainya di rumah, aku langsung membagikan kerang-kerang tersebut kedalam kotang plastik dan mengirimnya ke beberapa teman dekat. Kemudian aku mulai memasak. Aku memasak kerang tahu menjadi sup mie soa kerang.

1 thought on “Mencari Kerang Tahu Di Pantai Kejawanan Cirebon”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *