The Falcon Saga

Kisah Pernikahan

Kisah Pernikahan

 

Kisah Pernikahan Yang Dapat Diambil Pelajarannya

Jika membicarakan mengenai kisah pernikahan, pasti ada suka dan ada duka. Karena pernikahan bukan akhir dari kisah hidup sepasang muda-mudi dalam menjalin ikatan kasih. Melainkan awal gerbang baru dalam kehidupan mereka.

Sebagian pasangan akan merasakan kegembiraan yang luar biasa dalam mempersiapkan pernikahan. Apalagi jika kedua belah pihak orang tua sangat menyetujui pernikahan tersebut. Tetapi ada pula yang kurang dan bahkan tidak bahagia dalam menyambut pernikahannya. Faktornya banyak, mulai dari bukan pilihan sendiri atau dijodohkan, terpaksa menikah karena harus bertanggung jawab atas jabang bayi yang hadir diperut wanita, dan masih banyak lagi.

Awal mula

Kisah pernikahan kali ini benar-benar menjadi pelajaran bagi saya dan mungkin kalian semua sebagai pembaca. Awalnya saya mendukung pernikahan tersebut walaupun keluarga calon mempelai wanita dan sebagian teman dekatnya melarang. Yah, mereka semua melarang karena backround calon mempelai pria yang seorang duda beranak 2 dan juga pernah mendekam dipenjara dengan tuduhan penipuan. Keluarga mana yang akan menyetujui pernikahan tersebut. Saya memahami betul kenapa keluarga menolak akan hal tersebut. Tetapi kala itu saya masih naif.

Saya memang telah memberikan saran dan juga masukan kepada calon mempelai wanita mengenai kenapa keluarganya menolak pria pilihannya. Sayapun telah memberikan gambaran terburuk yang mungkin bisa terjadi. Tapi saya kembalikan lagi dengan si calon mempelai wanita yang akan menjalani kehidupan pernikahan tersebut. Saya membenarkan juga kalau semua bisa berubah seperti halnya masalah rezeki dan semua yang ditakutkan pihak keluarga wanita. Maka dari itu saya tetap mendukung mereka melangkah kepernikahan.

Alhamdulillah, pernikahanpun terlaksanan. Yang awal mulanya Ayah, Ibu sambung, kakak kandung, dan teman dekat si wanita menolak, akhirnya merestui juga. Mereka bilang mau dibagaimanakan juga si wanita ini sudah kadung jatuh cinta yang teramat dalam, sehingga apapun nasihat laranagan keluarga tak akan didengar.

Singkat cerita, mereka memulai kehidupan pernikahan mereka. Mereka mulai mengontrak kosan 2 petak dan si pria kembali menjalani bisnis sebagai mata pencahariannya untuk menafkahi si wanita yang mana telah menjadi istrinya. Mereka memulai merajut mimpi-mimpi pernikahan yang mereka percayai saat mereka berpacaran. Rasa manis sebagai pasangan pengantin barupun mereka nikmati.

Masalah

Tapi sayang baru berjalan 2 bulan pernikahan, mereka harus menerima kenyataan yang tak mereka inginkan. Entah benar-benar tak mereka inginkan, atau sudah terencana oleh pihak pria. Saya yakin pihak wanita tak menginginkan hal ini terjadi. Karena begitu banyak cerita mimpi manis yang ia ceritakan kepada saya. Sehingga tak mungkinrasanya jika si wanita melakukan hal ini juga.

Suatu hari, saya mendapatkan chat via Whatsapp dari si wanita yang mana ia berniat meminjam sejumlah uang. Alasan untuk membayar kosan dan sebagainya yang mana ia berjanji akan mengembalikan keesokan harinya. Karena merasa sangat dekat dan janji akan dikembalikan ke esokan harinya, sayapun tanpa menanyakan aiueo langsung mengizinkan dan mentransfer saat itu juga dan dibalas dengan ucapan terimakasih olehnya. Keesokan harinya saya menunggu akan janji wanita tersebut, tetapi saya masih berfikiran “mungkin dia lupa”. Sampai akhirnya tepat 1 minggu kemudian barulah ia mengkontak saya lagi dengan kalimat “Ra, kamu nggak kangen aku?”

Sebagai seorang teman tentu saya sangat merindukannya. Saya pun membalas, “Kangenlah, tapi takut dikira nagih nantinya?” dengan selipan imoticon tertawa ditambah imoticon menutup mulut.

“Nangih apa Ra?” tanyanya kembali.

Saya bingung, “Hah apakah dia lupa?” tanyaku dalam hati kemudian menggaruk kepala bagian kiri depan. Saya pun menggulir chat ke atas dan meng-screenshot chat dia 1 minggu lalu. Belum sampai saya mengirim hasil screenshot, ia pun membalas dengan bertanya lagi “Apa aku pinjam uang Ra?”. Membaca pertanyaan itu membuat saya menyerngitkan dahi. Tak lama setelah itu, dia menjelaskan kalau minggu lalu HP nya dipinjam suaminya. Dan dia bercerita kalau suaminya tidak cerita dengannya kalau suaminya tersebut meminjam uang.

Mendengar cerita itu saya langsung berpendapat, “Waaaahh!! Suami yang brengsek! Durhaka sekali dia, tega mengotori perteman istrinya dengan ulahnya yang tidak bertanggung jawab! Ckckckck.”

—-To Be Continued—-

Pembelajaran

Dari kisah ini saya belajar, apa salahnya mendengarkan nasehat orang tua untuk kebaikan masa depan. Memang, banyak orang sukses dengan latar belakang yang dinilai sangat burut bagi orang lain. Tapi dikembalikan lagi, jika kita sebagai orang tua apakah kita ridho jika anak kita melakukan hal yang sama seperti kita. Jika hati jawabannya “tidak”, sebaikanya mendengarkan nasihat orang tua. Jika hati berkata “ya”, silahkan lanjutkan. Tapi harus diingat, setiap keputusan ada konsekuensi yang didapat dan dipertanggung jawabkan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *