The Falcon Saga

Gadis

 

Saat berusaha membuat eyeliner tiba-tiba BB bergetar tanda BBM masuk. Melihat nama yang jarang dan bahkan sama sekali tidak pernah mengobrol, tiba-tiba mengetikan nama panggilanku. “Ta”

“Iyah Re?” Jawabku

“Blh speak b2 nggak?” Tanyanya

“Kpn?”

“Bis kls syntax.”

“Ok.” Jawabku

Bingung kenapa dia mau ngobrol. Karena kita sama sekali nggak dekat dan nggak pernah ngobrol bareng. Sempat memikirkan topik apa yang akan dibicarakan. Tapi, ya sudah “kita lihat saja nanti” pikirku dalam hati dan kemudian melanjutkan bersolek.

.

Saat asik menyimak pelajaran yang kurang lebih sudah berlangsung 30 menitan, tiba-tiba seorang gadis masuk ke dalam kelas. Seluruh kelas menoleh kearah gadis tersebut.

“Maaf Bu, saya terlambat.”

Dosenpun mempersilahkan ia duduk. Saat itu aku sedang duduk dibagian paling belakang kelas. Kebetulan bangku di sebelah ku kosong. Dan diapun duduk disebelah ku.

Aku memberikan senyuman kepadanya. Dia membalas senyumanku. Canggung? Jelas. Kami berbeda kelas tapi sering kelas kami digabungkan. Jadi kami hanya kenal sebatas “oh dia kelas B.”

Sibuk mengeluarkan binder dan alat tulisnya, saya berbisik ke arahnya. “Lu mau ngobrol apa?”. Dia tidak membalas pertanyaan ku. Ia hanya memperlambat aktifitasnya mengeluarkan alat tulis dari dalam tasnya. Aneh melihat reaksinya, aku hanya tersenyum heran dan menanyakan, “Lu nggak hamil khan?”. Ia menunduk. Aku tidak menunggu jawabannya. Aku melanjutkan memperhatikan apa yang diajarkan Dosen di depan kelas. Tapi tiba-tiba terdengar suara tangis yang begitu pelan, suara berat yang dikeluarkan saat menghirup udara. Iya. Renata menangis.

Kaget dengan reaksinya akupun menyadari jawaban dari pertanyaan yang aku lontarkan. “Anjir! Lu hamil?” Tanyaku dengan pelan tapi menekan.

“Gw nggak tau. Gw belum check. Gw takut.” Jawab Renata menatap ku dengan mata yang penuh air.

“WHATTT?!” Balasku kencang dan itu membuat satu kelas melihat ke arahku dan terpaksa aku mengarang alasanku berbuat bising.

.

Selesai kelas. Tanpa pamit ke teman-teman 1 gank, aku langsung menarik tangan Renata. Mengajaknya segera keluar kelas dan mencari taxi. Renata hanya menuruti semua yang aku lakukan tanpa perlawanan. Tangisnya semakin kencang saat kami memasuki taxi. Aku tidak menanyakan apapun selama di taxi. Aku hanya membiarkannya menangis. BB ku mulai penuh BBM dan Ping dari anak-anak yqng menanyakan keberadaanku. Tapi tak ku hiraukan.

Sesampainya ditujuan. Aku meminta Renata untuk berhenti menangis. Ya kali di Mall nangis sambil digeret-geret orang. Apa kata orang lain yang melihatnya. Pasti mereka akan berfikiran aku melakukan suatu hal yang buruk ke Renata.

Aku menarik Renata ke arah drug store. Dia mencobakan menghentikan langkahku saat ia tahu akan memesuki drug store.

“Mau ngapain?” Tanyanya kaget dan ketakutan

“Mau beli testpack lah!” Jawabku ngotot.

Dia menggelengkan kepalanya dan bilang “Gw nggak berani Ta.”

“Gua yang beli!!!” Sambil menarik lengannya.

Di dalam drug store di mall yang kami kunjungi, aku menanyakan testpack ke Apoteker. Aku menanyakan merek testpack yang murah hingga yang bagus, apa perbedaannya, dan bagaimana cara menggunakannya. Sumpah, itu pertama kalinya aku membeli testpack. Awalnya canggung, tapi aku mengalahkan rasa canggungku dan berakting kalau aku wanita muda yang telah menikah dan wajar mencari barang tersebut.

Selesai mendengar penjelasan Apoteker aku memutuskan untuk membeli 5 testpack dengan harga murah dan 5 lagi dengan kualitas yang bagus. Selesai membayar, aku menarik tangan Renata untuk mengikutiku ke resto yang ada di rooftop mall tersebut. Aku memesan 2 tempat duduk paling ujung agar tidak ada yang mendengar pembicaraan kami. Tapi aku lupa kalau hari itu hari Rabu. Hari dimana Om ku visit ke resto yang dia jalankan dengan kawan-kawannya. Tapi beruntungnya, kami dibebaskan untuk memesan menu apa saja tanpa membayar. Hehe.

“Nih, Lu pake. Besok pagi abis Lu bangun lu test lu hamil nggak?” Pinta ku dengan emosi.

“Caranya gimana?” Tanya

“Lu ambil aqua gelas, Lu tadahan pipis Lu disitu. Terus Lu celupin ini. Kalau garis 1 Lu nggak hamil. Tapi kalau garis 2, Lu hamil. Lu ya, begituan Lu ngerti. Tapi efeknya lu nggak ngerti! Besok pagi Lu BBM gua, lu kirim foto hasilnya.”

Renata hanya menganggukan kepala. Setelah itu kami mulai mengobrol seperti orang baru pertama kenalan. Aku menanyakan latar belakang dia, dia anak keberapa, punya kakak atau adik nggak, dsb. Dia menjelaskan kalau dia anak satu-satunya dikeluarganya. Orang tuanya menunggu 8 tahun untuk mendapatkannya. Mendengar penjelasannya, membuatku semaki  marah.

“Gila ya Lu! Lu tau ortu Lu ngarepin Lu banget. Tapi Lu kayak gini. Lu mikir nggak sih? Lu tuh satu-satunya anak yang ortu Lu punya. Lu harapan mereka satu-satunya. Kebayang nggak sih Lu, kalau amit-amit Lu hamil, ortu Lu bakalan kayak gimana!!!”

Disitu Renata kembali menangis. Kesal mendengar tangisannya, aku tambah kesal. “Udah nggak usah nangis!!” Dan aku memberikan tissue dan memintanya menyeka air matanya.

Aku lewati malam dengan penuh kegelisahan. Apa hasilnya? Apa yang akan terjadi jika Renata beneran hamil. AllohhuAkbar, semoga nggak Ya Alloh. Akhinya pagi pun datang. Akupun langsung BBM Renata.

“Re, apa hasilnya?”

Tidak ada jawaban. Aku menunggu dengan gelisah. Aku berusaha beraktifitas seperti biasa, walaupun isi otak penuh dengan hasil testpack Renata. Jam menunjukan pukul 7.20, akhirnya Renata BBM. “Garis 1, Alhamdulillah Ya Alloh.” Kataku dalam hati. Semenjak itu aku dan Renata menjadi dekat di BBM. Kami sering menanyakan apa yang sedang dilakukan oleh satu sama lain. Tapi kami tidak menunjukan kedekatan kami di public.

Entah kenapa obrolanku dengan kawan-kawan dekat dan keluarga selalu menyinggung tentang bayi. Ini membuatku tidak nyaman. Sampai suati hari, saat Papa sedang libur dan kami makan siang bersama. Tiba-tiba Mama mengungkit saat aku kecil. Sontak ini membuatku bertanya kepada Mama. “Mah, dulu waktu Mama tau hamil aku gimana?”

Mama menjawab, “Kok jadi tiba-tiba nanya itu?”

“Ya Mama, tadi ngungkit-ngungkit waktu aku bayi. Aku jadi penasaran. Dulu Mama pake testpack atau bagaimana?” Tanyaku

“Mama langsung ke dokter. Pas Mama rasa ada tanda-tanda kehamilan, Mama langsung ke dokter ditemani Papa.”

“Mama nggak pake testpack?” Tanyaku penasaran.

“Dikehamilan pertama, Mama check pake testpack. Tapi hasilnya Mama nggak hamil. Mama beraktifitas seperti biasa. Nggak taunya Mama keguguran. Kapok sama kejadian itu. Di kehamilan kedua, begitu telat halangan Mama rajin ke dokter. Mama dikasih tau kalau Mama hamil lagi. Mama hati-hati, tapi tetep keguguran. Pas yang ketiga itu Mama Papa ekstra hati-hati banget. Alhamdulillah, dapet kamu. Nanti, kalau Sinta sudah menikah. Terus mau tau hamil atau nggak, Mama temani Sinta ke dokter kandungan.” Jelas Mama.

“Khan masih lama Ma. Lulus kuliah ajah belum. Kerja belum. Ma ciri-ciri taunya wanita hamil itu apa aja sih?”

“Kenapa tanya gitu? Ada teman yang hamil?” Sela Papa.

“Hmm. Nggak Pa. Mau tau ajah.” Jelasku kepada Papa.

Apa yang Mama jelaskan membuatku terbayang-bayang fisik Renata. Mencoba mengingat-ngingat apa ada perubahan yang terjadi. Sempat ingin menanyakan saat itu juga. Tapi aku urungkan. Aku menunggu hingga jadwal masuk kuliah di hari selanjutnya.

Hari yang aku nantikan datang. Kebetulan Renata dan kelompoknya menjadi pembuka jadwal persentasi MaKul SosBud. Saat Renata persentasi, aku memperhatikan fisik Renata. Mengamati jika ad yang berubah. Sesekali aku tersenyum kepadanya. Dia pun membalas senyumku. Selesai Renata melakukan persentasi dan tanya jawab, ia dan kelompoknya kembali ke bangku masing-masing. Saat itu juga aku BBM Renata. “Ke dokter yuk?”

“Hah! Ngpain?” balasnya.

“Mstiin ja. Lu tlat g?” Tanyaku balik.

“Mens Gw g trtur. Kdng 2 bln skali.”

“Hah!” balasku

“klr kls Gua ke kos Lu y?” tanyaku lagi setelah beberapa saat.

“OK.”

Di kosan Renata, aku bertemu dengan teman sekelas Renata. Dia menanyakan tujuan saya ke kosan itu, secara nggak ada yang tau kalau aku dan Renata mulai berteman. Aku menjelaskan kalau saat itu aku ingin meminjam hasil persentasi Renata dan akan membuat catatan. Karena Renata dan kelompoknya tidak memberikan copy persentasi seperti kelompok lain.

Sesampainya di kamar Renata, aku meminta Renata menceritakan siklus halangannya. Menanyakan beberapa hal kewanitaan lainnya. Disitu Renata cerita kalau dia sering kram, dan merasakan dadanya sering sakit. Wanita yang mendekati periodenya juga merasakan hal yang sama. Renata berpendapat kalau dia akan segera mendapat periodenya. Tapi aku tidak berpendapat. Aku bersikeras mengajaknya ke dokter untuk memastikan semuanya. Akupun menceritakan ciri-ciri kehamilan kepadanya. Disitu Renata menangis, bertanya “Gw takut Ta. Gimana kalau beneran Gw hamil. Ta, please.” Dia memohon.

“Justru biar jelas Re! Muka Lu tuh pucet, Lu sering kelihatan lemes. Nggak kayak biasanya”

“Gw kecapean ajah Ta. Terus Gw juga nggak mual.”

“Re, please. Dengerin Gua.”

Perdebatan itu berakhir dengan Renata yang mau menuruti perkataanku. Kami mencari info dan kontak dokter kandungan yang terbaik saat itu. Rata-rata jadwal prakteknya dokter kandungan itu malam. Sehingga membuatku harus izin ke Mama untuk menginap di rumah teman lama yang Mama kenal. Aku beralasan untuk sleepover di rumah Genevieve. Mama mengenalnya dengan panggilan Vivi.

Bersambung…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *