The Falcon Saga

Gadis Part 2, Emosi Yang Tak Pernah Terlupakan

 

 

Cerita ini lanjutan dari Cerpen Gadis. Jika belum membaca, kalian bisa membacanya disini.

Malam yang sudah ditentukan, aku dan Renata pergi mengunjungi dokter kandungan. Ini pertama kali kami mengunjungi dokter kandungan, kami tidak tahu kalau kami harus mengambil antrian sedari sore. Alhasil, kami yang datang jam 7 mendapat giliran masuk terakhir dan jam 10.30 malam. Saat memasuki ruangan, kami berdua canggung. Dokter dengan ramah menanyakan siapa yang ingin diperiksa. Dokternya benar-benar baik. Ia seperti memahami kondisi kami tanpa menyinggung dan mengorek-ngorek lebih dalam. Saat diperiksa, hasilnya Renata HAMIL. Renata menangis saat tau hal itu dan aku gemetaran saat mengetahuinya. Aku mencoba menenangkan Renata. Dokterpun melakukan hal yang sama dan  memberikan nasihat menguatkan untuk Renata.

Selesai mengambil obat dan vitamin yang diresepkan dokter, kamipun pulang. Di dalam taxi Renata menangis, akupun menangis. Saat sampai dikosan yang sudah sepi, Renata masih menangis. Aku meminta Renata untuk berhenti menangis. Distu dia mulai memohon bantuan untuk menggugurkan kandungan. Renata selalu mengatakan dia tidak bisa mempertahankan bayi tersebut. Dia menjabarkan alasannya. Sesekali diapun memukul-mukul perutnya. Kejadian seperti itu pernah aku lihat di sinetron-sinetron. Baru kali ini aku menyaksikan langsung. Aku meminta Renata untuk tidak memukul perutnya, aku menahan tangannya. Dan tangis Renata semakin kencang. Kalau diingat-ingat, saat itu aku menutup mulut Renata dengan selimut lembut miliknya. Itu bertujuan agar kamar-kamar lain tidak mendengar tangisan Renata kemudian aku memeluknya sampai dia tenang.

Rasanya malam itu aku tidak bisa tidur. Renata pun awalnya tidak bisa tidur. Tapi mungkin karena sudah menangis lama, dia pun akhirnya tertidur. Saat Renata tidur. Aku memandang wajahnya. Ada rasa kasihan ada rasa jengkel. Kenapa Gadis sepintar dia di akademis, dapat bertindak bodoh seperti ini hanya karena laki-laki bejad itu merayunya untuk membuktikan cintanya tidak palsu. Aku memperbaiki selimut Renata dan terpikir kalu kejadian itu terjadi padaku, apa aku akan melakukan hal yang sama? “TIDAK, aku tidak akan bertindak sebodoh itu. Aku akan melawan rayuan itu, dan mungkin akan meninju laki-laki tersebut. Aku akan berjuang untuk kehormatan diriku dan keluargaku.” jawabku dalam hati.

Memandang perut Renata yang sedang posisi menghadap ke arahku (miring kiri), aku mengelus-ngelusnya sambil berpikir. “Apa cinta sebuta itu ya? Ngeri banget.”

Keesokan harinya kami berdua bolos kuliah. Aku bilang ke Mama kalau aku akan langsung ke kampus dari rumah Genevieve. Sesiangan itu aku menguatkan Renata. Aku meminta Renata untuk bilang ke B*ngsat itu dan keluarganya, serta mereka harus menikah. Tapi lagi-lagi Renata menolak dan mengatakan semua alasannya lagi. Aku menenangkannya lagi dan mengajaknya makan siang disekitar kampus dan kemudian aku pulang kerumah. Sesampainya dirumah, aku memeluki dan mencium Mama. Mama menanyakan kenapa. Aku bilang kalau aku kangen Mama. Mama tanya apa semuanya baik-baik saja. Akupun menganggukan kepala.

Setelah ashar Mama memintaku menemaninya belanja di grocery store langganan kami. Di saat Mama mengambil kotak-kotak susu untuk persediaan, aku iseng melihat susu kehamilan. Saat memperhatikan susu kehamilan, Mama menanyakan apa yang aku lakukan. “Susu hamil lumayan juga yah Ma?” Jawabku.

“Iyah. Tapi nggak semahal kalau sudah punya bayi. Kalau sudah punya bayi pengeluaran lebih besar lagi. Susu, pampers, imunisasi, dan dokternya lumayan. Makanya belajar yang bener, biar nanti dapet kerjaan yang penghasilannya bisa mencukupi semuanya. Terus pasangannya juga yang baik dan tanggung jawab, jadi semua-semuanya bisa terpenuhi.”

“Iyah Mah.” Jawabku.

Entah kenapa selama belanja itu aku terus memikirkan bayi dalam perut Renata. Seandainya dia hadir di saat Renata benar-benar menginginkannya, mungkin Renata akan mempersiapkan dengan sebaik-baiknya. Lamunanku buyar setelah menerima BBM dari Ivan. Ivan teman SMA ku yang masih berhubungan baik sampai sekarang, mengajaku jalan. Kebetulan dia sedang libur kuliah. Aku meminta izin Mama dan Mama mengizinkan. Aku meminta Ivan untuk menjemputku jam 7. Ivan datang tepat waktu dan kamipun jalan-jalan. Saat melewati mini market, aku meminta Ivan untuk berhenti. Aku membeli susu hamil, yang mana membuat Ivan komentar “Lu hamil?!”. Akupun hanya tersenyum. Sontak membuat Ivan kembali berkata, “Anjir, Ta. Jangan becanda Lu!!”

“Ya nggaklah!! Ini buat ibu-ibu yang jualan di pinggir kampus Gua. Dia lagi hamil. Gua mau kasih ini ke dia. Soalnya dia baik sama Gua.” Jelasku

“Oh, Gua kira. Anjir kalau Lu hamil, Gua kasian sama yang ngamilin Lu.” Ivan mulai bercanda.

“Kenapa emang?”

“Pasti mati dia sama bokap Lu! Hahaha.”

“Bangke Lu, Van.”

Dan kamipun melanjutkan perjalanan. Sesampainya di resto milik orang tua teman Ivan, aku meminjam perlengkapan membuat kado. Disana aku membungkus dua kotak susu hamil dengan bungkus kado yang juga aku beli tadi. Aku berniat memberikan kepada Renata saat di kampus. Jika dibungkus kado seperti itu, tidak akan ada orang yang tahu kalau itu susu hamil. Aku membungkusnya menjadi 2 kado. Ada perasaan bahagia saat membungkus kado tersebut. Tapi rasa bahagia itu berubah menjadi khawatir. Itu dikarenakan BBM dari Renata yang mana dia bilang mau bunuh diri kalau aku tidak menemaninya menggugurkan kandungan. Sontak itu membuatku panik dan meminta Ivan mengantarku ke kosan Renata.

Sesampainya dikosan Renata, aku meminta Ivan untuk menunggu di mobil dan jangan keluar-keluar. Jangan telpon juga, biar aku yang telpon kalau keadaan benar-benar buruk. Aku berlari menuju ke kamar Renata. Sesampai di depan pintu dan mengetuk kamar Renata, Renata langsung keluar dan memelukku. Dia menangis dan membuat semua teman kos yang selorong dengannya keluar. Aku mendorongnya untuk masuk kamar. Aku mencoba menenangkannya tapi tangisnya tidak berhenti sampai akhirnya aku bilang, “Iya Gua bantu Lu. Lu tenang. Lu jangan gegabah. Gua cari info dulu.” Selesai itu dia berhenti menangis. Aku memberikan bungkusan kado yang kubuat tadi. Satu bungkusan belum selesai dibungkus. Renata mengetahui isinya dan akupun meminta Renata untuk meminumnya.

Aku meninggalkan Renata setelah dia agak tenang. Ivan yang menunggu di mobil menanyakan banyak hal saat aku masuk ke mobilnya. Tapi aku hanya menjawab, “Van gua laper. Makan bakso bakar di alun-alun yuk.” Ivan pun mengiyakan. Disana aku memesan bakso oseng ekstra pedas dan setelah jadi aku menambahkan menambahkan banyak sambel di dalamnya. Saat makan, aku menangis. Ivan menanyakan ada apa. Tapi aku menjawab kalau baksonya kepedesan dan panas, makanya aku menangis. Ivan mengerti ada yang tidak beres dengan peresaanku, tapi Ivan tetap bilang “Makanya kalau pesen jangan pedes-pedes. Nih minum dulu.”

Dua minggu setelah kejadian itu, Renata mulai jarang masuk kuliah. Aku mendatanginya dikosan. Aku menyarankan dia untuk tetap kuliah sampai liburan UTS. Dia pun menuruti perkataanku. Selama mendekati UTS, aku menyemangatinya dan memberikan gambaran kalau tidak semua wanita bisa memiliki anak dari rahimnya sendiri. Tapi tetap, keputusannya sudah bulat. Apalagi setelah dia mendapatkan info ada dukun beranak yang bisa membantunya. Dia memintaku untuk mengantarnya kesana. Saya menyarankan agar pacarnya menemaninya juga. Tapi dia bilang dia sudah putus dengan pacarnya. Mendengar hal itu membuatku emosi jiwa. Dalam hati aku berkata, “Dasar Bangs*t, giliran kayak gini lepas tangan. Kalau suatu saat ketemu dia bakalan aku hajar habis-habisan.”

Singkat cerita aku mengantarnya, aku beralasan ingin pergi bersama teman-teman ke telaga. Mama mengizinkanku membawa mobil. Sampai disana, sumpah rasa takut yang luar biasa muncul. Dalam hati aku berkata “kalau ada apa-apa aku pasti kena.”. Tapi tetap mencoba untuk tenang. Awal masuk, si Ibu sudah tau karena Renata sudah bicara dengannya via telpon. Disana Renata diberi jamu. Jamu itu memiliki reaksi yang lumayan cepat. Renata merasakan kram yang luar biasa. Tidak hanya itu, Renata bilang kalau tubuhnya terasa panas. Tapi aku melihatnya menggigil. Ak memanggil si Ibu. Ibu dan temannya kemudian mengurut perut Renata. Renata menjerit kesakitan. Renata memanggil namaku dan menintaku untuk berada dibelakang punggungnya. Ibu yang satu lagi menggulung handuk dan meminta Renata untuk menggitnya. Jeritan Renata terulang tapi kali ini tak begitu terdengar karena terhalang handuk di mulutnya. Ibu yang mengurut perut Renata memasukan sejenis batang daun dan ternyata itu untuk mengambil sang bayi dari dalam. Si ibu menunjukan bayi tersebut kepada saya. Bentuknya sudah sempurna. Aku menangis dan keluar rumah. Di luar rumah aku muntah-muntah membayangkan apa yang aku lihat. Aku diberikan minum air putih hangat oleh si ibu satunya lagi. Aku diminta masuk kedalam. Aku melihat Renata sangat pucat dan berantakan. Aku menangis tak henti-henti. Renata pun sama. Aku melihat perut Renata lebih bengkak dari sebelumnya. Aku menanyakan keadaan Renata. Dia bilang kalau dia baik-baik saja dan bahkan sempat tersenyum.

Aku meninggalkan Renata beberapa hari di sana. Aku pulang ke kota sendirian. Saat dijalan aku tidak fokus karena membayangkan hal yang aku lihat tadi. Sambil mengangis aku menyusuri jalan pulang sendirian. Saking tidak tahannya. Aku meminggirkan mobil dan benhenti. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku meminta ampun kepada Alloh atas apa yang aku lakukan. Aku memohon agar aku tidak terkena karmanya. Aku benar-benar menyesal.

Empat bulan sejak kejadian itu, aku masih suka bermimpi tentang bayi. Kadang bangun ditengah malam dan menangis. Rasa takut yang terus menghantui membuatku tersiksa. Aku bersyukur, Renata terlihat lebih bahagia. Aku tidak pernah mengunggkit masa itu lagi saat kami bicara. Kami masih berteman baik sampai suatu saat. Sebelum kelas akan dimulai. Teman satu kos Renata memberitahuku kalau saat Renata akan pergi ke kampus dengannya, mantan Renata datang dan meminta Renata untuk tidak berangkat. Renata pun menurutinya. Merasakan ada yang tidak beres, aku meminjam motor teman satu kelasku. Aku langsung meluncur ke kosan Renata.

Saat sampai, aku berlari menaiki anak tangga. Sesampainya di depan pintu kamar Renata, aku memanggil namanya. Tapi aku mendengarkan suara lain yang membuatku geram. Dengan rasa marah, aku menendang pintu kamar Renata. Pintu terbuka dan aku melihat suatu hal yang tidak seharusnya aku lihat. Dengan rasa kaget dan kesal si Bangs*t itu marah dengan mengeluarkan kata-kata “Anjing! Saha nyaneh? Rek ikutan?”. Aku hanya memasang wajah kesalku. Renata mencoba menutupi tubuhnya dan aku berteriak “Pake baju Lu!!”. Kemudian Renata menangis.

Kesal dengan teriakanku ke Renata, si B*ngsat yang tanpa benang sehelaipun turun dari kasur dan dengan lagak sombongnya mendekatiku. Dari jarak dekat aku memberikan tinjuan dari arah bawah. Kaget dengan apa yang aku lakukan, dia membalas dengan menampar pipi kiriku. Itu tidak mebuatku ciut, tapi membuatku lebih marah. Aku menendang bagian vitalnya yang langsung membuatnya jatuh kesakitan. Saat dia tersungkur kesakitan, aku mulai menendanginya berkali-kali. Dia berusaha menendang balik tapi tendangannya kosong dan tidak membuatku jatuh. Aku terus menendanginya. Dia mengesot mundur ke belakang yang mana membuat dia terpojok ditembok. Saat dia terpojok, saya mengunci kaki dan tangannya yang memegang alat vitalnya. Kemudian aku menjambak dan mempenturkan kepalnya ketembok. Dia memohon ampun dan saya mengganti benturan dengan menamparinya sambil berteriak. “ANJ*NG!! LU TAU APA YANG UDAH GUA LAKUIN UNTUK MENGHAPUS KESALAHAN LU. GUA ANTER DIA NGEB*N*H ANAK LU. HARUSNYA YANG  PANTES DiB*N*H TUH LU B*NGS*T!!”

Renata menangis dan memohon kepada saya untuk menghentikan pukulan itu. Saya menghentikan tanparan itu. Lalu saya berdiri sambil bilang, “Kali ini Lu harus tanggung jawab.” Sekali lagi aku menginjak bagian vitalnya, dan itu lebih keras dari yang sebelumnya. Aku keluar kamar dan mengarah ke ruang TV, di sana aku mengambil Vas. Membawa vas tersebut kedalam kamar Renata dan melemparnya ke jendela. Tindakanku membuat orang-orang di kosan bawah dan sebrang keluar. Di saat itu aku berteriak-teriak dan membuat orang-orang berkumpul melihat apa yang terjadi. Saat orang-orang berkumpul, aku kembali berteriak “LU HARUS TANGGUNG JAWAB! KALAU NGGAK GUA BAKAL CARI LU!!”

Aku duduk dilantai dan menelpon seseorang. “Pa, aku baru berantem sama orang. Aku bikin dia berdarah-darah. Papa bisa jemput aku?” Akupun menangis. Awalnya Papa kaget tapi kemudian mencoba memahami situasi dan akhirnya Papa memintaku untuk mengatakan lokasi dimana Papa harus jemput. Aku yang menangis di ruang TV kosan Renata dengan ditemani beberapa orang dari sekitaran kosan tersebut, menunggu Papa datang. Papa yang sedang libur saat itu datang menjemputku bersama dua orang temannya. Dua orang temannya menayai orang-orang disitu apa yang terjadi dan kemudian melihat keadaan Si B*ngsat yang babak belur di kamar Renata.

Salah satu teman Papa mengatakan aku bisa pulang. Aku bilang sama Papa kalau aku lemas dan tidak sanggup jalan. Akhirnya Papa mengendongku ke mobil. Saat menuju mobil, teman sekelasku datang dan berteriak “Sinta!!”. Saat sudah dimobil teman 1 gank mendekat dan menangis bersama tanpa tahu apa yang aku lakukan. Mereka berpikir aku yang kenapa-napa. Padahal aku yang membuat seseorang terkapar. Saat melihat teman yang meminjamkan motor, aku teringat tas ku yang masih di atas. Salah satu teman mengambilkan dan aku memberikan kunci motornya dan mengucapkan terimakasih.

Saat dijalan menuju rumah, di lampu merah, aku bilang ke Papa kalau aku lapar dan minta makan siang di KFC. Papa tertawa mendengar permintaanku. Aku yang masih menangis, ikutan tertawa. Papa hanya berkomentar dengan logat melayunya, “Ya Alloh, Kau nak. Habis pukul laki, lapar rupanya?” kemudian lanjut tertawa.

Saat makan di KFC, Papa memintaku menceritakan apa yang terjadi. Komentar Papa cuma bilang, “Besok kita pigi latihan bela diri lagi ya. Nasip baik kau masih ingat sikik. Sekarang, makan lah yang banyak biar ada tenaga. Pulang kerumah tak boleh ada tangis. Kasihan Mama nanti bingung. Ok?”. Akupun mengiyakan.

Sebulan setelah kejadian itu, aku dikabari oleh teman sekelas kalau Renata dan si B*ngsat itu menikah. Aku tidak pernah bertemu dan mengobrol dengan Renata lagi. Tidak pernah tertarik mengetahui bagaimana kabarnya. Sampai dua tahun yang lalu, tanpa disengaja ada rekomendasi teman dari facebook dengan nama Renata, aku melihat foto kecil profilnya. Dia memiliki 3 anak perempuan dan berfoto dengan tersenyum bahagia bersama Si B*ngsat. Hatiku hanya berkata, “Apa Lu bahagia sekarang? Apa Lu lupa dengan kejahan yang Lu lakuin? Gua masih nggak bisa lupa dan itu terus menjadi mimpi buruk Gua.”

Aku masih mengingat tanggal kejadian bayi itu direnggut paksa nyawanya. Dan setiap tanggal itu, aku membeli cake untuk merayakan hari lahirnya. Dan itu masih aku lakukan.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *