The Falcon Saga

Gadis Mungil Bernama Nilam

Gadis Mungil Bernama Nilam

 

 

 

Sambil memandangi gadis kecil bertubuh mungil yang sedang bermain dengan boneka kumalnya, dalam hati aku mengasihi kehidupannya. Namanya Nilam. Awal aku mengira, ia baru berusia 3 tahun. Ternyata ia berusia 5 tahun. Tubuhnya amatlah kurus dan mungil. Tak salah pikirku jika aku mengira usianya 3 tahun.

Ia berada dipanti ini dari bulan Agustus. Pertama kali ia datang ke panti ini, ia sering menangis karena merindukan ibunya. Awalnya pun ia sangat sulit sekali didekati. Ia hanya mau didekati orang jika orang tersebut menemaninya berdiri di depan pintu masuk panti. Aku merasa ia sangat menunggu kedatangan ibunya.

Masih ingat sekali, saat ia datang rambutnya begitu kusut. Aku menemaninya bermain didepan pintu panti sembari membujuknya untuk mandi sore sekaligus mengeramasinya. Awalnya ia menolak, tapi setelah aku janjikan untuk mengajaknya jalan-jalan sekitaran komplek dengan motor, ia baru mau.

Saat ingin memandikannya, dengan suara cempreng menggemaskan khas anak-anak, ia memintaku untuk mengeramasinya dengan hati-hati. Dia bilang jangan sampe kena matanya karena kalau kena matanya ia akan menangis. Caranya berbicara jelas membuatku tertawa. Dan itu membuatnya kesal. Kemudian menegaskan kembali supaya aku berhati-hati saat mengeramasinya.

Aku membantunya melepaskan semua pakaiannya, betapa terkejutnya aku saat melihat beberapa tanda biru dan merah karena memar di punggung dan paha belakangnya. Sambil memandikan, aku menanyakan apa yang terjadi dengan gadis kecil tersebut. Dan ia pun mulai bercerita.

“Di pukul Mak Pipih.” Jelasnya.

“Kenapa dede bisa dipukul?” Tanyaku lagi.

“Dede minta susu kayak Alip, tapi dede dipukul telus digelet. Digeletnya gini mba!” Dia mengangkat kedua tangannya dan akupun paham jika ia digeret kebelakang oleh seseorang yang ia panggil Mak Pipih.

“Dede dipukul pake apa?” Tanyaku lagi

“Pake tangannya Mak Pipih ininya.” Sambil menunjuk punggungnya. “Ini pake sapu lidi.” Nilam yang berendam di dalam bak hitampun berdiri dan menunjukan tanda merah gosong di paha belakangnya.

Dalam hati aku mengutuki orang yang melakukannya kekejaman itu kepada gadis mungil ini. Saking kesalnya, aku tidak dapat berkomentar apa-apa lagi tentang penjelasan gadis tersebut. Aku hanya terus menyirami air ketubuhnya dengan telapak tanganku. Dan rasa kasihanku semakin dalam dengan gadis ini.

Selesai memandikan dan mendandaninya, aku mengatakan kalau aku akan pulang dan jum’at minggu depan akan kembali lagi. Tapi anak ini menangis dan memintaku untuk terus menemaninya. Melihatnya menangis, membuatku menggit bibir ku sendiri dan menahan air mata. Sungguh tidak tega rasanya. Akhirnya, aku berjanji menemaninya bermain sebentar lagi di depan pintu masuk panti. Ia pun menyetujuinya dan berhenti menangis.

Saat menemaninya bermain, ibu kepala datang menghampiriku. Aku menanyakan tentang asal-asul anak tersebut. Beliau menceritakan kalau sang ibu dengan sengaja memintanya untuk tinggal dipanti. Bukan tanpa alasan, sang ibu melakukan hal itu agar anak ini tidak sering dipukuli Nenek dan Juga Bibinya. Saat mendengar penjelasannya, dalam hati aku bertanya “Ya Alloh, Nenek macam apa yang tega memukuli dan menyiksa cucu kandungnya sendiri?”.

Ibu kepala pun menjelaskan, jika sang ibu dan ayahnya berpisah karena masalah ekonomi, KDRT, dan juga perselingkuhan. Ayahnya tidak memiliki pekerjaan tetap yang dapat mencukupi kebutuhan ekonomi, tapi lebih parahnya lagi sang ayah ini suka berjudi dan main perempuan. Yang mana itu membuat sang ibu kecewa dan marah. Saat mereka cekcok sang ayah selalu memukuli sang ibu. Sang ibupun tidak tahan akan perlakuan yang ia dapatkan dari  sang ayah dan akhirnya memilih untuk menyudahi pernikahannya.

Setelah bercerai, sang ibu yang mendapatkan hak asuh anakpun harus bekerja mencari nafkah untuk memenuhi setiap kebutuhannya dan Nilam. Sang ibu memutuskan untuk menjadi PRT di Jakarta dan dengan berat hati menitipkan Nilam pada Ibu dan adiknya di kampung halamannya. Tapi sayang untuk Nilam. Nilam sering mendapatkan perlakuan kasar dari sang Nenek dan Bibinya. Dengan alasan “Nakal” mereka sering memberikan pukulan kepada Nilam.

Tak hanya itu, jika Sang Ibu telat mengirimkan uang bulanan dengan kisaran Rp 800.000,- hingga Rp 1.000.000,- untuk Nilam. Sang Nenek akan lebih kejam lagi memperlakukan Nilam. Dari ibu kepala saya tahu kalau Sang Ibu bercerita dulu saat menikah dengan Ayah Nilam, memang ibunya tidak setuju tetapi apa mau dikata jika sudah cinta, perkataan orang tua tak bisa di dengar dan ia pun nekad menikah dengan sang Ayah. Na’asnya pernikahan mereka gagal dan itu membuat Sang Nenek kesal dengan sang ibu yang dulu dinasehati tidak bisa. Bukan hanya itu, Sang Nenekpun tidak bisa menyayangi Cucu dari menantu yang tidak ia senangi. Akhirnya Sang Nenek melampiaskan kekesalannya kepada Nilam.

Ibu kepala pun bercerita, saat Sang Ibu sudah di Jakarta dan Nilam tinggal dengan Neneknya. Nilam yang merasa lapar ingin makan siang membangunkan Neneknya yang sedang tidur lelap. Karena merasa terganggu akan Nilam, sang Nenekpun memukuli Nilam.

Mendengar semua cerita Ibu Kepala membuatku memandang Nilam yang sedang bermain masak-masakan dengan bonekanya sambil berkata dalam hati, “Ya Alloh nak, malang sangat nasibmu. Seharusnya Nenek yang lebih menyayangimu lebih dari orang tua malah memukulimu karena rasa kesal terhadap ayah ibumu. Semoga Alloh memberikanmu kebahagian yang luar biasa yah nak.” Dan akupun berdoa agar jika Alloh qodar aku menikah, pernikahanku adalah pernikahan yang membahagian dunia akhirat. Dan anak-anakku bersama suamipun selalu dalam kebahagiaan dunia dan akhirat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *