The Falcon Saga

Cerita Masa SMA

Cerita Masa SMA

Cerita Masa SMA – Awalnya kami berteman, tapi tiba-tiba kami saling menjauh. Eits, bukan tentang cowok kok. Ini cerita tentang teman-teman sepermainan semasa SMA. Cerita ini terjadi saat kami di bangku kelas 10. Jumlah kami 11 orang, udah macam girl band Korea ajah khan yah. Xixixi

Kami bersebelas sering kumpul bareng, mulai dari jam istirahat pertama, sholat dzuhur, makan siang, dan saat mengerjakan tugas. Terkadang saat mengerjakan tugas, kami yang bersebelas sering terbagi menjadi 2 group. Saat awal-awal kami sering sekali bersama.

Tapi ada beberapa hal yang membuat kami akhirnya pecah. Alasannya, segudang. Ya maklum yah, 1 group berisi 11 karakter yang berbeda selera. Dari sebelas itu terpecah menjadi dua group. Satu group berisikan 7 orang, satu group lainnya berisikan 3 orang, dan 1 orang lagi (yaitu saya) tidak peduli ada di group mana. Saya bisa mengimbangi 2 group tersebut dan kelompok lainnya.

Group 7 orang ini sangat menyukai persaingan belajar, saya bisa masuk di sini karena saya bisa dijadikan pesaing bagi mereka. Sedangkan di group 3 orang ini sangat menyukai games dan juga band. Saat itu saya menyukai bermain PS dan juga dapat bermain piano dan keyboard. Sepulang sekolah jika ada waktu luang saya sering diajak mereka sewa studio musik untuk latihan band atau mengunjungi rumah salah satu dari mereka untuk bermain PS. Berteman dengan banyak kalangan memang menyenangkan bukan?

Suatu hari, satu kelas ujian Fisika. Nilai Fisika terbaik saat itu adalah 65,5. Saya yang mendengar pernyataan guru tentang nilai terbaik, hanya bisa menunduk dan berkata “Wah paling besarnya segitu. Nilai saya berapa?”. Dan ternyata yang mendapatkan nilai itu adalah saya. Otomatis saya mendapat perhatian dari teman sekelas yang mana ada dari mereka itu menjadi laki-laki favorit dari 7 orang ini.

Singkat cerita beberapa dari 7 orang ini sering membicarakan saya dibelakang. Sampai suatu hari saat masa periode bulanan saya datang dan saat itu saya merasakan sakit yang luar biasa hingga merengek kesakitan,  salah satu dari 7 orang ini (yang punya daya saingnya tinggi, sebut dia AL) berkata “Manja banget sih. Kalau sakit tuh ditahan!”.

Mendengar kalimat semacam itu saat sedang kesakitan luar biasa, membuat saya sakit hati. Saya tidak membalas perkataannya langsung saat itu tapi saya berdoa “Ya Alloh, semoga dia merasakan sakit yang luar biasa seperti ini saat dia mens.”

Luar biasanya, saat dia mens diminggu berikutnya. Dia mengalami sakit yang luar biasa. Dia merenget ke 5 teman lainnya. Disitu saya mengembalikan perkataannya “Kalau sakit tuh ditahan!”. Tapi yang tidak saya pikirkan adalah imbasnya. Saat dia mengatakan kalimat menyakitkan itu, hanya ada saya dan salah 1 teman lain (IN). Tapi saat saya mengatakan hal itu, 5 orang lainnya sedang berkumpul. Alhasil mereka mengatakan kalau saya jahat luar biasa. Dan saya mulai dijauhi. Yang bikin kesal, 1 orang yang mendengar anak tersebeut berbicara yang menyakitkan terlebih dahulu kepada saya tidak memberikan penjelasan kenapa saya bisa berbicara hal tersebut. Tetapi dia hanya mengiyakan kalau saya jahat.

Saat saya mulai dijauhi itu, saya tidak sadar. Saya masih pergi makan siang bersama mereka. Tetapi mereka satu persatu mulai membuat saya tidak nyaman lagi berteman dengan mereka. Dua hal yang saya ingat. Pertama, saat saya memakai 1 set perhiasan yang dibelikan Papa. 1 orang berinisial B bilang kalau saya tidak pantas mengenakan perhiasan tersebut. Saya yang marah mengatakan kalau ini pemberian Papa dan dia tidak pantas berbicara seperti itu kepada saya. Tapi responnya, ia memainkan mulutnya seolah-olah mengikuti kata-kata saya. Saya yang kecewa ditenangkan oleh yang lain. Tapi saya bilang “Of course, gua marah sama B.” Tapi saya pun mendapatkan respon yang kurang baik dari AL, dia berkata “Of Course? Belagu banget sih lu!” Maklum kalau saingan, apa ajah yang dilakukan sama orang lain pasti salah. Ckckck

Dari situ saya mulai menjauhi mereka. Dan lebih intens gabung dengan group 3 orang. Suatu hari, saya melihat B memakai anting dengan model yang sama dengan yang saya dapatkan dari Papa. Anting emas putih berornamen tiara dan dihiasi bandul muliara yang sangat cantik. Saat pelajaran olah raga, dia izin ke kamar mandi dengan salah satu temannya. Saat di kamar mandi,  B masuk ke toilet dan temannya menunggu di luar toilet. Saya yang sendirian masuk di toilet juga. Saat saya dengar dia keluar toilet saya pun keluar. Di depan kaca saat mencuci tangan, saya tau dia memperhatikan saya, saya pun memperlihatkan anting kanan dan kiri di kaca dan menoleh ke dia dengan senyuman sinis. Disini saya mengingatkan dia kalau anting yang dia pakai adalah model yang sama dengan pemberian Papa yang dia hina. Disitu dia terlihat kesal, saya pun bilang ke dia kalau dia lebih tidak pantas mengenakan anting tersebut. Dia terlihat emosi, tapi saya lebih emosi lagi sampai bilang, “saya tau kamu berbohong tentang ibu kandung kamu. Saya tau semuanya. Kalau kamu nggak mau saya bocorin, jangan sekali-kali lagi kamu menghina saya!” Dan sayapun keluar dari toilet. Selama pelajaran olah raga itu, raut wajahnya BT banget. Jelas dia kesal dengan perbuatan saya.

Kemudian saat makan siang suatu hari di kantin, saya mendengar AL keceplosan mengucapkan “of course”. Disitu saya tertawa dan menatapnya dengan senyum tipis. Saya tau dia merasa kalah, karena sebelumnya dia mengatakan “belagu” karena saya karena mengucapkan kata tersebut. Tapi pada akhirnya dia mengikuti. Hahaha. Secara itu kata hits jaman itu (ya bisa dibilang saya memiliki teman-teman diluar sekolah yang hits abis dan itu mempengaruhi saya dalam berbicara). Dan saya tau kalau dia mengikuti kata tersebut karena keponakan saya, yang teman baik AL, sering mengucapkan kata tersebut setelah mendengarnya dari saya.

Saat kelas 11, saya sama sekali tidak bermain dengan mereka lagi. Tetapi saya berkumpul dengan anak hits disekolah. Saya juga tidak tau kenapa bisa seperti itu, dan itu membuat mereka lebih membenci saya lagi. Karena setiap ada yang berkata buruk tentang saya, teman-teman saya yang ini langsung main labrak.

Oh yah ada 1 lagi kejadian yang bikin AL malu banget, menurut saya. Jadi dikelas 11 dari seluruh kelas ada 10 anak yang dipilih untuk ikut paduan suara. 9 dari 10 itu diterima semua, hanya 1 yang dieliminasi dan itu AL. 9 orang tersebut salah satunya saya. AL yang pesaing tingkat tinggi merasa malu dan menunjukan stress yang membuatnya pingsan. Saat itu teman-teman baiknya tidak ada yang bisa mengantarnya pulang. Merasa kasihan, saya pun menawarkan diri untuk mengantarnya dengan becak langganan yang selalu anter jemput saya kalau Papa sedang bekerja.

Dia benar-benar lemas, dia bersandar dibahu saya di dalam becak. Belum sampai keluar komplek perumahan tempat sekolah saya berada, ibunya menjemputnya dengan mobil. AL menangis, entah karena malu atau sakit beneran atau bagaimana. Kemudian si ibu turun dan memberikan uang 10ribu sebagai balasan atau berniat mengganti uang becak. Tapi disitu saya merasa tersinggung. Saya tulus ikhlas menolong anaknya, saya berharap si ibu tidak menilai kebaikan itu dengan uang 10ribu.

Saya tidak ada rasa bersaing dengan AL ataupun B ataupun yang lainnya. Karena saya rasa percuma aja gitu. Tapi sampai kami lulus, mereka masih seperti itu. Saya pun cuek-cuek saja. Sampai suatu saat, saya mendapat kabar kalau 1 per satu dari mereka mengalami masalah. Mulai dari AL yang kehilangan pendengarannya karena terlalu sering mengkonsumsi obat penghilang sakit dosis tinggi setiap dia menstruasi, IN yang bermasalah dengan reputasinya di lingkungan sekitar, B yang ketahuan suaminya kalau dia menceritakan wanita yang dia panggil Mama adalah tantenya, dan hal-hal lainnya.

Seandainya IN memberitahukan kenapa teman lainya jika saya bicara yang menurut teman lainnya kasar, adalah sebagai pembalasan. Mungkin permusuhan ini tidak terjadi. Dan jika saya bisa menahan sakit hati, ini pun tidak akan terjadi. Tapi saya pun memikirkan, jika saat itu saya tidak membalas perkataan AL, mungkin ada kata-kata lain yang dia lontarkan kepada saya atau tindakan yang lebih buruk lagi jika saya diam. Saya manusia biasa, saat saya mendapat perlakuan yang tidak mengenakan, saya akan membalasnya dengan tujuan mereka tau apa rasanya jika diperlakukan seperti itu. Tapi imbasnyapun saya yang kena.

Kadang berpikir ini lucu sekali. Tapi kok gini. Tapi ya sudahlah, pembelajaran hidup itu kadang unik-unik memang.

1 thought on “Cerita Masa SMA”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *