The Falcon Saga

Cerita Di Balik Terjadinya Diriku

Lahir dari keluarga yang memiliki 2 latar belakang kebudayaan yang berbeda merupakan anugrah bagi saya. Sayapun dapat mempelajari kedua budaya tersebut dari Mama & Papa. Papa merupakan putera asli kelahiran Kalimantan Barat. Yup, Papa memberikan label Puteri Dayak kepada saya. Suku kami adalah Dayak Kenyah. Sedangkan Mama, puteri asli keturunan Kulonprogo, Jawa Tengah.

Kisah mereka bertemu membuat saya selalu tertarik mendengarkannya. Mama yang menetap di Jogja untuk berkuliah di Universitas Sanata Darma, tidak pernah bertemu Papa yang berkuliah di depan kampusnya, yaitu Universitas Atmajaya. Mereka bertemu ketika mereka sama-sama bekerja di Palembang. Dari sini saya yakin dengan kalimat “sedekat apapun kita dengan jodoh kita, selama bukan waktunya untuk bersatu, maka tidak akan bersatu”. Karena Alloh sudah menetapkan waktu yang tepat untuk mereka bertemu.

Saat itu Mama sedang menjemur pakaian di halaman depan rumah Mbah Har, sepupu Simbah yang menetap di Palembang. Mama melihat Papa keluar dari rumah salah satu rumah tetangganya. Saat keluar rumah, Papa menyapa sepupu Mama yang sedang berjalan menuju rumah. Mama yang melihat kejadian itu langsung bertanya kepada sepupunya, “Sopo kui, To?”

“Oh, konco ngopi ku.” Jawab sepupu Mama.

“Salam ya To, nek ketemu meneh.” Kata Mama iseng.

“Tenan? Jarene, Mase kui saking Jogja lho.”

“Ho’oh. Wah ya cocok.” Jawab Mama

Tiga hari setelah kejadian itu, Papa main ke rumah Mbah Har untuk ketemu Mama. 😆 Papa membawa sekeranjang buah-buahan saat itu. Papa orang yang sopan. Papa meminta izin Mbah Har untuk berkenalan dengan Mama. MasyaAlloh, kalau saya sudah ada di waktu itu dan bertemu Papa, mungkin saya yang akan mengejar Papa. 🤣🤣🤣

Setiap kali Papa datang, Papa selalu membawa buah tangan yang Mama suka. Papa tidak pernah tidak membawa apa-apa dan cocoknya, Mama tidak pernah meminta apa-apa untuk dijadikan buah tangan. Tetapi apa yang dibawa Papa, selalu sesuatu yang Mama suka. Entah Papa mencari tau dari sepupu Mama atau tidak. Tapi Papa selalu bilang, itu terjadi karena Papa merasa mengenal Mama walaupun baru pertama ketemu. Jadi tanpa sengaja Papa selalu membawa buah tangan kesukaan Mama. (Pinter banget bokap gua ngelesnya. Jago bet deh Pa. 🤣😍😘❤)

Sebenarnya saat Papa mendekati Mama, sudah ada 3 pria lain yang juga sedang mendekati Mama. Hebat banget deh Mama. Menurut aku sebagai puterinya, Mama adalah Mama tercantik yang aku punya. Tapi jika dibandingkan dengan yang lain, Mama tidak begitu cantik (ini kata Mama pribadi yang menurutnya “sadar diri”). Tetapi Mama memiliki pribadi yang menyenangkan. Sangat amat menyenangkan. Mama sangat begitu cerdas saat berbicara dan mudah membaur di setiap kalangan dan topik pembicaraan. Mama bilang mungkin karena itu Mama disukai banyak pria. (Cieeee).

Pernah satu waktu, 3 pria dan Papa datang di waktu bersamaan. Mama juga nggak tau kenapa bisa gitu. Karena kejadian ini, masing-masing dari mereka merasa tidak enak dan akhirnya pulang satu-persatu kecuali Papa. Karena kaki Papa terus diinjak Mama, yang mana memberi kode untuk tidak pulang. Melihat kejadian itu, Mbah Har paham dengan pilihan Mama. Saat yang lain sudah pulang Mbah Har meminta Mama menyiapkan tambahan suguhan di dapur dan kemudian Mbah Har mengobrol dengan Papa.

Saat mereka berbicara 4 mata, Mbah Har menanyakan tujuan Papa mendekati Mama. Menurut Mbah Har, mereka sudah di usia yang tepat untuk menikah. Jika hanya untuk bermain-main lebih baik tidak usah dilanjutkan. Di situ Papa bilang “Saya sadar, Saya dan Mur baru mengenal beberapa Minggu. (3 Minggu kata Mama). Saya mencari waktu yang tepat untuk menyatakan tujuan saya mendekati Mur adalah untuk mencari istri. Mungkin ini jalannya, dengan Pakdhe menegur saya. Jalan saya untuk meminta Mur menjadi Istri saya lebih mudah.” (MasyaAlloh gentle nya Pa. 😍) Kemudian Mbah Har meminta Papa segera datang dengan keluarganya. Dan benar saja, lamaran terjadi di minggu berikutnya. (Kalau sudah waktunya, MasyaAllah, nggak nyangka secepat itu.

Lamaran diadakan di rumah Mbah Har. Mbah Kung dan Simbah Puteri tidak bisa datang dan meminta Mbah Har untuk menjadi wali di acara lamaran tersebut. Baru setelah 2 bulan lamaran, pernikahan digelar dikediaman Mama di Kulon Progo. Baik kedua belah pihak orang tua sudah menanti-nanti peristiwa ini. Alhamdulillah cerita bahagia mereka berlanjut sampai sekarang dan akan berlanjut di Jannah Alloh nanti. Aamiin.

2 thoughts on “Cerita Di Balik Terjadinya Diriku”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *